Kamis, 13 Maret 2014

Osteoporosis dan pencegahanya

Osteoporosis merupakan suatu kondisi menipisnya tulang sehingga tulang mudah lemah dan rapuh. Kondisi ini bisa menyerang siapa saja dan semua lapisan usia. Namun demikian, terdapat faktor-faktor resiko yang secara signifkan dapat mempengaruhi perkembangan terjadinya osteoporosis. Ada beberapa faktor resiko yang tidak dapat dihindari, dan adapula faktor resiko yang dapat dikurangi dengan pola hidup sehat Beberapa faktor resiko yang tidak dapat dihindari adalah jenis kelamin. Sekitar 80 persen yang terkena osteoporosis adalah wanita. Hal ini disebabkan karena wanita mempunyai tulang yang lebih ringan dari pria, sehingga dapat meningkatkan resiko terjadinya patah tulang. Kepadatan tulang berkurang sejalan dengan bertambahnya usia khususnya wanita yang telah memasuki masa manapouse Orang yang mempunyai riwayat keluarga patah tulang dapat meningkatkan terjadinya osteoporosis. Ras juga salah satu faktor resiko. Misalnya, kepadatan tulang wanita asia dan caucasian adalah 5-10 persen lebih rendah dari wanita afrika dan amerika. Bentuk tubuh juga memegang peranan dimana bentuk tubuh yang kecil atau kurus mempunyai faktor resiko lebih tinggi dibanding orang yang berbadan lebih besar untuk terjadinya osteoporosis. Faktor-faktor resiko dapat dikurangi dengan perubahan pola hidup atau memberikan suplementasi. Merokok dan alkohol ini dapat mempengaruhi jalannya proses kalsium dalam tubuh. Kurangnya berolahraga dapat menurunkan kekuatan tulang sehingga dapat meningkatkan resiko terjadinya osteoporosis. Hal ini disebabkan karena berkurangnya pengikat kalsium dan vitamin D. Hormon reproduksi memegang peranan penting dalam kesehatan tulang, masa menopause atau rendahnya tetosteron pada laki-laki dapat meningkatkan resiko terjadinya osteoporosis. Sebagai tambahan, beberapa obat-obatan untuk ashma dan arthritis, dosis tinggi dari hormone tiroid dan beberapa obat yang dipakai untuk memberantas kejang dapat mempengaruhi absorpsi kalsium dan meningkatkan terjadinya osteoporosis TERJADINYA OSTEOPOROSIS Sayangnya, tidak terdapatnya gejala dini dalam perjalan penyakit ini, hingga banyak orang tidak mengetahui terdapat osteoporosis sampai terjadinya keseleo atau jatuh yang menyebabkan patah tulang. Osteoporosis seringkali menyebabakan tulang belakang menjadi bengkok sehingga dapat menyebabkan terjadinya nyeri pinggang, pengurangan tinggi badan atau berhentinya pertambahan tinggi badan. Pada umumnya keluhan ini seringkali dikatakan sebagai konsekuensi dari usia tua bila dokter mencurigai adanya kerapuhan tulang, maka test kerapuhan tulang dapat dilakukan. Test ini dapat mengetahui kekuatan dan kualitas tulang dengan mengukur jumlah kalsium pada tulang belakang ,pergelangan tangan atau panggul. Ada bermacam-macam metode dalam mengukur BMD. Semua pemeriksaan BMD tersebut dapat dilakukan secara cepat, tidak menyakitkan dan biasanya ditanggung asuransi. Pengukuran BMD dapat mendeteksi adanya kerapuhan tulang sehingga dapat dilakukan pengobatan sesegera mungkin sebelum terjadinya patah tulang. Bila pengobatan osteoporosis telah dimulai. Test BMD dapat mengetahui seberapa efektifnya pengobatan yang telah dilakukan dengan memonitor kecapatan hilang atau bertambahnya masa tulang pada interval 1 atau 2 tahun. Pencegahan osteoporosis Untuk mencegah terjadinya osteoporosis,perlu melakukan hal-hal sebagai berikut: - Menjalankan latihan teratur pembebanan seperti berjalan cepat selama 30 menit 4 kali seminggu - Stop merokok - Stop minum alkohol dan kopi - Diet kalsium: 1000-1500mg perhari ( 1500 mg bila post menopause). Makan makanan tinggi kalsium seperti susu rendah lemak dan tinggi kalsium,produk susu rendah lemak lainya,ikan,buah sitrus,buah kemiri. - Pengobatan terbaiknya adalah pencegahan dengan pemberian terapi hormonal pada saat menopause. Contoh obat yang tesedia dipasaran untuk pengobatan osteoporosis adalah biphosphonate, calcitonin, hormon paratiroid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar